Monday, December 20, 2004

MUNGKIN

Dunia ini memang terasa aneh. Aneh karena sesuatu terkadang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Sesuatu yang normal lazimnya tidak akan menimbulkan sejumlah pertanyaan dan jawaban. Hal itulah yang diharapkan karena dengan adanya pertanyaan dan jawaban akan menambah pekerjaan tersendiri kepada si pelakunya.

Hukum "Sebab Akibat" (kausalitas) merupakan analogi dasar yang paling mudah untuk menggambarkan kenyataan ini. Seorang petani yang rajin dan peduli dengan tanaman padinya pasti akan menuai hasil panen sesuai dengan jerih payah yang telah ia lakukan. Begitu juga seorang siswa yang rajin dalam belajarnya tentu akan mendapat nilai dan ranking sejauh mana ia serius dalam belajar.

Dalam konteks sebuah negara, sudah menjadi tugas seorang Presiden mengurusi kemajuan negara dan bangsa yang ia pimpin. Sudah menjadi kewajibannya pula peduli dengan nasib rakyat kecil yang senantiasa kesulitan mengais rezeki demi mendapatkan sesuap nasi. Bukan hanya Presiden, pejabat tinggi negara yang lain tentunya harus ikut sadar. Mereka dipilih – baik jadi Menteri, Gubernur, Bupati sampai Kepala desa dan Ketua RT – supaya dapat memberikan secercah harapan sekaligus suritauladan kepada rakyat maupun bawahannya. Akibatnya adalah – kalau semua itu berjalan sesuai dengan tujuannya – bangsa yang berperadaban dan negara yang maju tidak akan menjadi harapan utopis belaka bagi rakyatnya.

Dalam konteks interaksi sosial pun dapat kita cermati hal yang serupa. Ketika ada dua orang yang telah lama menjalin hubungan bersahabat, tentu keduanya akan terus berusaha menjaga kelanggengan tali persahabatannya itu dan tidak ingin jika ada orang luar berusaha mengganggu keakraban yang mereka miliki. Keduanya pun tidak akan membiarkan jika ada pihak luar berusaha menyakiti atau merugikan sahabatnya itu. Sebenarnya, tidak hanya dalam lingkup persahabatan saja tapi terjadi pula dalam ikatan rasa yang berangkat dari kesamaan status sosial seperti sesama mahasiswa, rekan sekerja ataupun ikatan rasa dan sederita.

Intinya, dalam menjalani proses kehidupan ini memang – diakui maupun tidak – perlu pemahaman jenis baru tentang hukum kausalitas. Adalah konyol bila seseorang hanya berjalan begitu saja (acuh tak acuh) tanpa melihat tujuan dan akibat yang ada ada di hadapannya nanti. Meskipun konyol masih tidak terhitung orang tetap melakukannya. Tidak jarang sikap seseorang hanya mengalir seperti air dan tidak mau melihat ke arah manakah aliran itu bermuara?

Manusia, di muka Bumi ini, adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan karena dengan kelebihan akal dan pengindraannya mampu memposisikan statusnya di atas segala penghuni Bumi yang lain. Namun yang aneh masih banyak pemandangan di sekitar kita kurang menunjukkan apa yang diharapkan.

Pergantian pemimpin yang berulang-ulang dan pelantikan sejumlah pejabat tinggi negara dalam susunan Kabinet belum juga memberi jawaban atas nasib rakyat ini. Rakyat tetap mengerang kesakitan dan petinggi-petinggi negara tetap asyik-masyuk dengan urusannya sendiri. Yang lebih parah lagi mereka berusaha menghambur-hamburkan uang negara tanpa ada suatu tujuan yang jelas.

Keteladanan seorang pemimpin mestinya dapat kita ambil dari sikap yang diperlihatkan Ketua MPR RI kita, DR. Hidayat Nur Wahid yang tidak berkehendak menikmati fasilitas negara berupa mobil Sedan jenis Volvo yang mewah nan nyaman. Sulit rasanya mencari pemimpin yang mau dan hirau dengan nasib dan rasa yang dialami oleh rakyat seperti ini. Presiden kita, SBY, dalam agenda kenegaraannya, pun akan mengurangi kunjungan-kunjungan ke luar negeri kecuali dengan agenda negara yang mendesak dan dirasa penting. Sikap-sikap seperti inilah yang mesti ditumbuh-suburkan dalam kehidupan pejabat negara kita yang masih (terlihat) langka.

Sekali lagi, realita dan pemandangan di sekitar kita berkata lain. Kepedulian (rasa) seorang pemimpin - seperti sikap Presiden RI dan Ketua MPR kita di atas – masih sulit diketemukan dan dirasakan. Hubungan saudara antara sesama Muslim sendiri tercabik-cabik karena sebuah kepentingan. Sesama rekan rela mengorbankan dan acuh tak acuh dengan nasib rekannya sendiri yang kebetulan sedang menghadapi kesulitan. Mereka cenderung diam dan bungkam seribu kata tatkala melihat nasib kawannya dipermainkan sang penguasa. Hanya berhutang jasa sedikit – dan kurang mendasar – mereka malu bersuara apalagi bersengketa, sekali lagi hanya karena sebuah kepentingan yang sifatnya sepihak semata.

Fenomena di atas merupakan pemandangan yang tidak mengherankan lagi di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Dus, sangat penting menyadari bahwa Hukum Kausalitas telah menggambarkan itu semua. Terjadinya protes keras dari rakyat -yang merasa dikebiri haknya, ketidak-harmonisan dalam interaksi sosial antara sesama Muslim, putusnya tali persahabatan dan pertemanan dan masih banyak lagi contoh yang dapat kita saksikan. Semua itu tentunya adalah akibat dari sebab yang telah mendahuluinya.

. Entah apakah itu adalah penyakit yang mewabah dalam kehidupan masyarakat kita bahwa perlakuan yang lalim dan merugikan orang lain dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi dan biasa-biasa saja? Atau sekarang memang sulit mencari orang yang peduli dengan nasib sesamanya? Atau sekarang adalah zamannya peduli dengan nasib perutnya sendiri dan salah jika "mengelus" nasib perut orang lain? Dan atau – ini rasanya tidak (tetapi juga) mungkin - itu merupakan sikap kukuh dalam mempertahankan prinsipnya masing-masing, meski sejatinya adalah 'salah-kaprah'? Jawabannya adalah singkat: Semua itu "mungkin".

Recent Visitors


Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net
 

Copyright © 2009 by Explore Islamic Banking